Pertemuan 3

 


Assalamu'alaikum Wr. Wb
Salam Sejahtera untuk kita bersama...

Bagaimana kabar ananda siang ini? Mudah-mudahan sehat selalu dan berada dalam perlindungan-Nya.
Siang ini kita akan melanjutkan materi minggu yang lalu dimana pembahasannya mengenai "kerajaan dan kelompok masyarakat yang ada di Riau".
Sebelum kita melanjutkan materinya, silahkan berdo'a menurut agama masing-masing, berdo'a mulai...

Pertemuan yang lalu, ada 10 kerajaan dan kelompok masyarakat yang ada di Riau, yaitu: Kandis dan Koto Alang, Katangka, Sriwijaya, Sintong dan Siarang-arang, Kuantan, Rantau Nan Oso Duapuluh, Keritang, Gasib, Segati dan Pekantua. Nah, untuk hari ini bapak akan menambahkan 10 kerajaan dan kelompok masyarakat yang ada di Riau. Silahkan ananda isi daftar hadir sesuai kelas masing-masing;

Absen Kelas 7.1, Silahkan klik DISINI

Absen Kelas 7.2, Silahkan klik DISINI

Absen Kelas 7.3, Silahkan klik DISINI

Absen Kelas 7.4, Silahkan klik DISINI

Absen Kelas 7.5, Silahkan klik DISINI

Absen Kelas 7.6, Silahkan klik DISINI

Absen Kelas 7.7, Silahkan klik DISINI

Absen Kelas 7.8, Silahkan klik DISINI

Coba ananda perhatikan gambar diatas! Pernahkah ananda berkunjung kesana? Gambar diatas salah satu peninggalan kerajaan yang terdapat di Riau yaitu Istana kesultanan Siak. Pada uraian materi dibawah ini, akan ditampilkan lanjutan nama Kerajaan dan Kelompok Masyarakat yang ada di Riau. Silahkan ananda baca dan keluarkan buku catatan, kemudian tulis ringkasan materinya.

Andiko Nan 44
Andiko 44 meliputi negeri-negeri yang terdapat di Kampar Kiri, Kampar Kanan, Tapung Kanan, serta Rokan, yang semuanya berjumlah 44 negeri.
Pemerintah Andiko Nan 44 diperkirakan berdiri pada tahun 1347 Masehi. Pusat pemerintahan Andiko Nan 44 berada di Muara Takus. Pucuk pemerintahan pertama dipegang oleh Datuk Simarajo Dibalai dari suku Domo. Dalam melaksanakan pemerintahan, ia dibantu oleh satu lembaga kerapatan yang merupakan utusan dari empat suku yaitu:
 • Datuk Rajo Ampuni dari suku Peliangtahan
 • Datuk Mojolelo dari Suku Domo
 • Datuk Malingtang dari suku Caniago
 • Datuk Paduko Rajo dari suku Melayu
Di tiap-tiap negeri, ditunjuk seorang Penghulu Pucuk sebagai Kepala Kerapatan. Penghulu inilah yang meneruskan setiap perintah. Penghulu Pucuk dalam menjalankan tugasnya, dibantu oleh seorang Monti dan Pendito.

Gunung Sahilan
Kerajaan Gunung Sahilan diperkirakan berdiri pada abad ke-16 Masehi. Wilayahnya dibagi menjadi tiga rantau. Pertama, Rantau Daulat, yaitu dari Muara Langgai sampai ke Muara Singingi dengan Kampung-kampungnya: Mentulik, Sungai Pagar, Jawi-Jawi, Gunung Sahilan, Subarak, Koto Tuo Lipat Kain. Kedua, Rantau Indo Ajo, mulai dari Muara Singingi sampai ke Muara Sawa disebut Indo Ajo dengan nama negerinya adalah Lubuk Cimpur. Ketiga, Rantau Andiko, yaitu dari Muara Sawa sampai Kepangkalan yang dua laras dengan negeri-negeri Kuntu, Padang Sawah, Domo, Pulau Pencong, Pasir Amo (Gema), Tanjung Belit, Batu Sanggan, Miring, Gajah Bertalut, Aur Kuning, Terusan, Pangkalan Serai, Ludai, Koto Lamo dan Pangkalan Kapas.

Secara garis besar, kerajaan gunung sahilan terbagi dua wilayah besar, yaitu rantau daulat dan rantau andiko. Rantau daulat adalah daerah pusat kerajaan. Rantau daulat bepusat di kenegerian gunung sahilan. Sedangkan rantau andiko adalah daerah kekuasaan khalifah yang berempat dimudik. Di kerajaan gunung sahilan, pemerintahan tertinggi berada di tangan raja yang mengusai adat (pemerintahan) dan ibadat (keagamaan). Gelar raja kerajaan gunung sahilah adalah ”tengku yang dipertuan besar” dan untuk raja ibadat ”Tengku yang dipertuan sati”

Kerajaan gunung sahilan berdiri selamah lebih kurang 300 tahun. Selama itu kerajaan gunung sahilan di perintah oleh sembilan orang raja atau sultan dan satu orang putera mahkota yang akan dinobatkan menjadi sultan apabila raja yang terakhir wafat. Sembilan raja dan satu orang putera mahkota itu adalah sebagai berikut:

 - Tengku yang bertuan bujang sati bergelar sutan pangubayang 1700 – 1730.
 - Tengku yang dipertuan nan elok [1730 – 1800].
 - Tengku yang pertuan mudah l [1760 – 1840]. 
 - Tengku yang dipertuan hitam [1800 – 1840].
 - Tengku yang di pertuan abdul jalil khalifatullah [1840 – 1870].
 - Tengku yang di pertuan besar tengku daulat [1870 – 1905].
 - Tengku abdurrahman yang dipertuan mudah [1905 – 1930].
 - Tengku sulung yang di pertuan besar [1930 – 1945].
 - Tengku haji abdullah yang dipertuan sati [1930 -1945].
 - Tengku ghazali, dilantik sebagai putera mahkota tahun 1939, tetapi tidak sempat di lantaik menjadi        raja karena gunung bergabung dengan republik Indonesia.

Ada juga versi lain yang mencatat bahwa raja gunung sahilan sesungguhnya berjumlah 10 orang ditambah satu putera mahkota yang tidak jadi dilantik. Adapun nama raja-raja tersebut adalah:
 - Raja Mangiang, adalah raja pertama di kerajaan Gunung Sahilan. Dimakamkan dekat mesjid  
   Sahilan.
 - Raja Bersusu Empat, kuburannya berdekatan dengan Raja Mangiang.
 - Sultan Dipertuan Sakti Sultan Bujang, kuburannya di Kapalo Koto Gunung Sahilan.
 - Sultan yang Dipertuan Muda, kuburannya di Kapalo Koto Gunung Sahilan.
 - Sultan yang Dipertuan Hitam, kuburannya di Kapalo Koto Gunung Sahilan.
 - Sultan yang Dipertuan Besar, kuburannya di kota suci Makkah.
 - Sultan ABDUL Jalil yang Dipertuan Besar Sultan Daulat, kuburannya di Kapalo koto Gunung         Sahilan.
 - Sultan Abdurrahman Yang Dipertuan Muda, kuburannya di Jeddah.
 - Sultan Abdullah Sayyah gelar Yang Dipertuan Besar Tengku Sulung, kuburannya di RSUD              Pekanbaru,18 Maret 1951.
 - Sultan Abdullah Hassan Tengku yang Dipertuan Sakti. Dimakamkan di Lipat Kain pada 8           Desember 1957.
 - Tengku Ghazali (dilantik sebagai putera mahkota tahun 1941). Dimakamkan pada tanggal 26      Juni 1975, di pemakaman dekat RSUD Pekanbaru.

Tambusai
Kerajaan Tambusai merupakan salah satu kerajaan yang tua di tanah Rokan. Ibu negerinya terletak di Dalu- Dalu. Tidak diketahui secara pasti tahun berdirinya, namun diperkirakan setelah masuknya Islam di daerah ini. Raja pertama kerajaan Tambusai adalah Sultan Mahyuddin. Dalam pemerintahnya, ia dibantu oleh orang besar kerajaan yang terdiri dari Datuk Srimarajo, Datuk Paduko Tuan, Datuk Temenggung dan Datuk Paduko Rajo. Setelah Sultan Mahyuddin wafat, ia digantikan oleh puteranya bernama Jena, Kemudian bergelar Sultan Zainal. Selama pemerintahnya tidak terdapat perubahan yang penting, kecuali perubahan gelar Datuk Seri Paduko, Datuk Setia Raja, Datuk Mangkuto Majolelo dan Datuk Majo Indo.

Pada masa Sultan Abdullah yaitu Sultan Keempat, diadakan perpindahan pusat pemerintah dari Karang Besar ke Kuala Tambusai. Perubahan penting yang ada masa sultan ini selain pemindahan pusat pemerintah tidak ada, begitu juga struktur orang besar tetap seperti pada masa Sultan Zainal. Dalam “Terombo Siri” pegangan Raja Tambusai, dijelaskan bahwa kerajaan Tambusai sejak berdiri, telah diperintah oleh 19 orang raja, yaitu :
 
- Sultan Mahyudin Gelar Mohamad Kahar
 - Sultan Zainal
 - Sultan Ahmad
 - Sultan Adbdullah
 - Sultan Syaifuddin
 - Sultan Addurahman
 - Sultan Duli Yang Di pertuaan Tua
 - Sultan Duli Yang Di pertuaan Akhir Zaman
 - Sultan Duli Yang Di pertuaan Saidi Muhamil
 - Sultan Duli Yang Di pertuaan Sakti
 - Sultan Duli Yang Di pertuaan Ngagap
 - Sultan Duli Yang Di pertuaan Akhir Zaman
 - Sultan Duli Yang Di pertuaan Djumadil Alam ( Abdul Hamid )
 - Sultan Duli Yang Di pertuaan Yang Dipertuan Besar
 - Sultan Duli Yang Di pertuaan Besar
 - Sultan Abdul Wahid ( 1864-1887 )
 - Sultan Zainal Abidin ( 1887-1916 )
 - Sultan Ahmad (1916)
 - Yang Dipertuan Tengku Muhammad Yudo
 - Tengku Ilyas Gelar Tengku Sulung

Indragiri
Kerajaan Indragiri dapat dikatakan merupakan kelanjutan dari kerajaan dari Keritang. Raja pertama kerajaan Indragiri adalah Nara Singa. Nara Singa adalah anak dari raja Keritang terakhir yang ditawan oleh Melaka, yaitu Raja Merlang. Sebagai ibu Kota, dipilih suatu tempat yang terletak di tepi sungai di wilayah Pekantua. Menurut satu pendapat, nama Indragiri berasal dari nama anak sungai tempat didirikan kerajaan ini, yaitu sungai Pangandalandiri. Daerah kekuasaan kerajaan Indragiri, adalah mulai dari Baturijal, sepanjang sungai Indragiri, sungai Gangsal dan Kerintang.

Pendapat lain mengatakan bahwa kata “indragiri” berasal dari bahasa sanskerta yang berarti Kerajaan Negeri Mahligai. Adapun nama raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Indragiri adalah sebagai berikut :
 
- Raja Iskandar alias Nara Singa I [ 1337-1400 ]
 - Raja Merlang II bergelar Sultan Jamalluddin Inayatsyah [ 1400 – 1473 M ]
 - Sultan Alauddin Iskandar Johan Zirullah Fil Alamin Bergelar Nara Singa II [1473 – 1532] 
 - Sultan Usuluddin Hasansyah [ 1532 – 1557 M ]
 - Raja Ahmad bergelar Sultan Mohammadsyah [ 1557 – 1499 M ]
 - Raja Jamaluddin bergelar Sultan Jamaluddin Keramatsyah [ 1559 – 1658 M ]
 - Sultan Jamaluddin Suleimansyah [ 1658 – 1669 ]
 - Sultan Jamaluddin Mudoyatsyah [ 1669 – 1676 ]
 - Sultan Usuluddin Ahmadsyah [ 1676 – 1687 ]
 - Sultan Abdul Jalisyah  [ 1687 – 1700 ]
 - Sultan Mansyursyah [ 1700 – 1704 ]
 - Sultan Mohamadsyah [ 1704 – 1707 M]
 - Sultan Muzafarsyah [ 1707 – 1715 M ]
 - Raja Ali bergelar Sultan Zainal Abidin Inragiri [ 1715 – 1735 ]
 - Raja Hasan  bergelar Sultan Salehuddin Keramatsyah [ 1735 – 1765 M ]
 - Raja kecik Besar bergelar Sultan  Sunan [ 1765 – 1784 M ]
 - Sultan Ibrahim [ 1784 – 1815 M ]
 - Raja Mun bergelar Sultan Berjanggut Keramat Gangsal [ 1827 – 1838 M ]
 - Raja Umar bergeral Sultan Said Mudoyatsyah [ 1838 – 1876 M ]
 - Raja Said bergelar Sultan Ismailsyah [ 1876 – 1876 M ]
 - Raja Ismail bergelar Sultan Ismailsyah [ 1876 – 1877 M ]
 - Tengku Husin alias Tengku Bujang bergelar Sultan Husinsyah [ 1877 – 1883 M ]
 - Tengku Isa bergelar Sultan Isa Mudoyatsyah [ 1883 – 1902 M ]
 - Raja Uwok diangkat sebagai Raja Muda Indragiri [ 1912 – 1963 M ]
 - Sultan yang terakhir, yaitu Sultan Mahmudsyah, kemudian menyatakan bergabung dengan Indonesia. Oleh pemerintah Indonesia, Melalui TNI, beliau di berikan pangkat Mayor Honorair TNI, NO. 228/PLM/P.

Rambah
Kerajaan Rambah didirikan di daerah Pasir Pengaraian, yaitu di negeri Rambah. Daerah Ini termasuk ke dalam daerah kekuasaan Kerajaan Tambusai, bahkan raja Rambah pertama adalah saudara Sultan Tambusai sendiri. Nama raja itu Tengku Muda. Untuk menjaga kemungkinan masa depan diadakan ikrar bersama antara raja Tambusai dengan raja Rambah.
Beberapa raja yang pernah memimpin kerajaan Rambah, di antaranya yaitu:

 - Tengku Muda
 - Yang Dipertuan Djumadil Alam Sari
 - Mohamad Syarif yang Dipertuan Besar
 - Sultan Zainal Puan Kerajaan Rambah
 - Sultan Mahmud Manjang 
 - Tengku Saleh Yang Pertuan Besar  Rampah 

Kunto Darusalam 
Kerajaan Kunto Darussalam berdiri setelah kerajaan Tambusai, yaitu ketika Tambusai diperintahi oleh Sultan Syaifuddin. Pusat kekuasaannya terletak di kota Lama. Kerajaan Kunto Darussalam merupakan pusat penyebaran Islam didaerah Rokan.
Menurut Silsilah raja-raja kerajaan Kunto Darussalam, sejak berdiri sampai berakhir tahun 1942, tercatat 8 (delapan) orang raja yang pernah memerintah,yaitu:

 - Tengku Panglima Besar Kahar yang Dipertuan Besar [1878-1885].
 - Tengku Syarif yang Dipertuan Besar [1885-1895].
 - Tengku Ali Kasim yang dipertuan Besar[1895-1905].
 - Tengku Ali Tandun Yang Dipertuan Besar [1905-1910].
 - Tengku Ishak Yang Dipertuan Muda [1910-1921].
 - Tengku Ali Momad Tengku Panglima Besar[1921-1925].
 - Tengku Kamaruddin Tengku Sultan Machmud[1925-1935].
 - Tengku Maali Tengku Pangeran [1935-1942].

Kepenuhan
Kerajaan Kepenuhan, didirikan setelah kerajaan Tambusai berkembang dengan pesat. Ibu negerinya terletak diKota Tengah. Tidak ada catatan pasti tentang waktu berdirinya kerajaan kepenuhan. Dalam catatan tentang Kerajaan Tambusai disebutkan, bahwa Kerajaan Kepenuhan berdiri ketika Tambusai dipimpin oleh Sultan yang ketujuh, Sultan Duli yang Dipertuan Tua.

Jika disanding dengan kerajaan Kunto Darussalam yang didirikan pada masa Tambusai diperintah oleh raja yang ke-5, maka diperkirakan Kerajaan Kepenuhan berdiri pada pada penghujung abad ke-19. Menurut silsilah kerajaan Kepenuhan, tercatat beberapa raja yang pernah memerintah di Kepenuhan, antara lain:
- Sultan Sulaiman Yang Dipertuan Muda.
 - Yang Dipertuan Besar.
 - Datuk Maruhum Merah Dada.
 - Tengku Muda Sahak.
 - Montuo Muda.
 - Tengku Sultan Sulaiman.

Rokan IV Koto
Pada abad ke-14 M, Terdapat pula sebuah kerajaan yang berpusat di Kota Lama, yaitu kerajaan Rokan. Ada pendapat yang mengatakan bahwa perkataan Rokan berasal dari kata “rokana” yang berarti rukun dan damai. Ini melambangkan bahwa kerajaan Rokan adalah sebuah kerajaan yang besar karena kerukunan warga masyarakatnya.

Kerajaan Rokan memiliki banyak sumber daya alam dan karenanya kerajaan ini menjadi sebuah kerajaan yang makmur. Kerajaan Rokan juga membangun hubungan yang erat dengan kerajaan lain. Keberadaan Rokan membuat Raja Malaka tertarik untuk membangun hubungan persahabatan. Raja Malaka bahkan kemudian memperisteri puteri Rokan untuk kemudian dijadikan permaisuri. Kerajaan Rokan mengalami kemunduran pada abad ke-16 M. Kemunduran ini selain disebabkan oleh kekalahan Malaka melawan Portugis, Juga karena Rokan selalu mendapat ancaman dari Aru dan Aceh.

Adapun raja-raja yang pernah memerintah Rokan IV Koto, di antaranya:
 - Yang Dipertuan Sakti Ahmad [1837- 1859 M] 
 - Yang Dipertuan Sakti Husin [1856 – 1880 M ]
 - Tengku Sutan Zainal [1880 – 1903 M] 
 - Yang Dipertuan Sakti Ibrahim [1903 – 1942]

Siak Sri Indrapura
Siak Sri Indrapura merupakan sebutan bagi sebuah kerajaan yang terletak di tepi sungai jantan (sekarang disebut sungai siak). Ada beberapa pendapat yang menyebutkan tentang asal mula kata siak”, pertama, dari kata “siak” atau “orang siak”, yang berarti berilmu atau alim. Kedua, dari kata “siak-siak”, yaitu nama sejenis pohon yang dulu banyak terdapat di sungai jantan. Ketiga, berasal dari kata “suak” yaitu anak sungai. Keempat, dari kata “lasiak” yang berarti sejenis lada yang juga terdapat di sekitar sungai jantan.

Kerajaan Siak Sri Indrapura didirikan oleh raja kecik pada tahun 1723. “lasiak” raja kecik adalah anak dara Sultan Johor, yaitu Sultan Mahmud Syah II dari isterinya yang bernama Encik pong. Sebelum menjadi Sultan Siak Sri Indrapura, raja kecik sempat menjadi raja johor tahun 1717- 1722. Setelah terjadi hura- hura di Johor (Malaysia), kemudian raja kecik memutuskan untuk menyingkir ke Siak. Ia kemudian mendirikan kerajaan Siak Sri Indrapura pada tahun 1723 dan kemudian menjadi raja yang pertama, dengan gelar Sultan Abdul jalil Rakhmad Syah. Raja Kecik memerintah kerajaan Siak Sri Indrapura sampai tahun 1746. 

Sejak didirikan, kerajaan Siak Sri Indrapura di perintah oleh 12 (dua belas) orang sultan atau raja. Adapun nama-nama sultan yang pernah memerintah kerajaan Siak Sri Indrapura adalah sebagai berikut:

1. Raja Kecik bergelar Sultan Abdul Jalil Rakhmad Syah                  
Raja kecik adalah pendiri kerajaan Siak Sri Indrapura, selepas pindah dari johor. Beliau Memerintah    dari tahun 1723 sampai 1746. Pada masa pemerintahannya, berlangsung perang yang panjang antara Siak Sri Indrapura dengan Johor. Raja kecik menggugat bahwa ia adalah pewaris Kerajaan Johor dari ayahnya Sultan Mahmud yang dibunuh oleh Mengat Sri Rahma pada akhir abad ke-17. Bendahara Tun Habib mengendalikan kerajaan dan tidak mau menyerahkannya kepada Raja Kecik. Raja Kecik akhirnya mangkat tahun 1746 dengan gelar Marhum Buantan.
2. Sultan Abdul Jalil Muzafar Syah
Nama Asli dari sultan yang kedua ini adalah Tengku Buang Asmara. Ia merupakan anak bungsu dari Sultan Abdul Jalil Rakhmad Syah atau Raja Kecik. Ia memerintah dari tahun 1746 sampai 1765, dengan ibu kota kerajaan di Sungai Mempura. Pada masa pemerintahannya, Belanda mulai masuk ke Siak Sri Indrapura.
3. Sultan Abdul Jalil Jalaluddin Syah
Sebelum menjadi Sultan, namanya adalah Tengku Ismail. Ia adalah anak dari Sultan yang kedua. Ia memerintah dari tahun 1765 sampai 1766. Pada masanya, Ibu kota berada di Sungai Mempura dan beliau terkenal sebagai sultan yang gagah berani dalam menentang Belanda. Ia berkali mencoba kembali merebut Johor sebagaimana kakeknya, Raja Kecik.
4. Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah                                                   
Ia bernama Tengku Alam dan merupakan anak sulung dari Raja Kecik. Ia memerintah dari tahun 1766 sampai 1780. Pada masa pemerintahannya ibu kota dipindahkan ke Bukit Senapelan (Sekarang Kampung Bukit Senapelan, Pekanbaru).
5. Sultan Abdul Jalil Muazzan Syah
Ia adalah putera Tengku Alam. Namanya adalah Tengku Muhammad Ali. Beliau memerintah dari tahun 1780 sampai 1782. Sultan Abdul Jalil Muazzam Syah inilah yang memberi nama Pekanbaru, yang saat ini menjadi ibukota Provinsi Riau.
6. Sultan Yahya Abdul Jalil Muzafar Syah
Ia putera Sultan Siak Sri Indrapura yang ketiga. Namanya sebelum menjadi sultan adalah Tengku Yahya. Ia memerintah dari tahun 1782-1784. Pada masanya, Ibukota berpindah dari Senapelan ke Kota Tinggi, Siak Sri Indrapura.
7. Sultan Assyaidis Syarif Ali Abdul Jalil Syaifuddin
Nama kecilnya adalah Tengku Sayed Ali. Ia memerintah dari tahun 1784 sampai 1810. Pada masanya, Kerajaan Siak Sri Indrapura menjadi lebih luas, karena beliau mampu memperluas daerah kekuasaan ke berbagai kawasan. Beliau wafat di Koto Tinggi, Siak Sri Indrapura.
8. Sultan Syarif Ibrahim Abdul Jalil Khaliluddin Syah
Sebelum menjadi sultan, namanya adalah Tengku Sayed Ibrahim. Beliau memerintah dari tahun 1810 sampai 1815. Ia mangkat di Koto Tinggi dan disebut dengan Marhum Pura Kecil.
9. Sultan Assyaidis Syarif Ismail Abdul Jalil Syaifuddin
Ia memiliki nama kecil Tengku Sayed Ismail, memerinta dari tahun 1815 sampai 1864. Pada masa pemerintahannya, Dibuat traktat/perjanjian antara Kerajaan Siak Sri Indrapura dengan Belanda, yang isinya Belanda mengakui hak otonomi dan kekuasaan Siak Sri Indrapura atas beberapa tanah jajahan. Ia mangkat di Koto Tinggi.
10. Sultan Assyaidis Syarif Hasim Abdul Jalil Syaifuddin
Sultan Kesepuluh ini dikenal dengan Sultan Syarif Kasim I. Namanya adalah Tengku Panglima Besar Sayed Kasim.  Ia memerintah dari tahun 1889 sampai 1908. Pada masa pemerintahannya inilah, dibangun istana Asserayah Al Hasyimiyah (Istana Kerajaan Siak), untuk kepenting pemerintahan. Ia mangkat di Singapura dan dimakam di Koto Tinggi, Siak Sri Indrapura.
11. Sultan Assyaidis Syarif Kasim Tsani Abdul Jalil Syaifuddin
Sultan Terakhir Siak Sri Indrapura atau yang lebih dikenal dengan nama Sultan Syarif Kasim II ini memiliki nama asli Tengku Putera Sayed Kasim memerintah dari tahun 1908 sampai 1945. Sebagai seseorang yang berpendidikan, ia adalah sultan yang sangat peduli dengan pendidikan, baik pendidikan umum, pendidikan agama, maupun pendidikan untuk kaum perempuan. Beberapa lembaga pendidikan yang ia dirikan adalah Madrasah Taufiqiyah al-Hasyimiyah, Madrasah Taufiqiyah al-Hasyimiyah, Madrasah an-Nisa dan Lathifah School. Ia mangkat pada tahun 1968 di Rumbai dan bergelar Marhum Mangkat di Rumbai.


Pelalawan
Kerajaan Pelalawan merupakan kelanjutan dari kerajaan Pekantua Kampar. Penamaan “pelalawan” diambil dari kata “lalau” yang berarti tempat yang sudah dicadangkan. Sekitar tahun 1725 M, Raja Pekantua Kampar Maharaja Dinda II mengumumkan Pemindahan pusat pemerintahan dari Tanjung Negeri ke Sungai Rasau. Setelah pemindahan itu secara resmi nama Pelalawan menggantikan nama Pekantua Kampar.

Setelah berubah nama, Raja Pelalawan yang semula bergelar Maharaja Dinda II berganti menjadi Maharaja Dinda Perkasa Atau disebut Maharaja Lela Dipati. Setelah Mangkat, digantikan puteranya Maharaja Lelah Bungsu (1750 – 1775 M), yang membuat kerajaan pelalawan semangkin berkembang pesat, karena ia membuka hubungan perdagangan dengan Indragiri, jambi melalui sungai kerumutan, Nilo dan Panduk.

Kerajaan pelalawan memiliki ikatan yang khusus dengan johor. Tapi kemudian ketika terjadi kerusan di johor, yang menyebabkan meninggalnya sultan johor (Sultan Mahmud mangkat Dijulang), pelalawan melepaskan dirinya dari ikatan johor. Apalagi berita yang sampai ke pelalawan mengatakan, yang memerintah dikerajaan johor sekarang bukan lagi keturunan Sultan Alaudin Riayat Syah, yang dulunya menjadi raja Pekantua Kampar.

Setelah Maharaja Dinda II mangkat, ia di ganti oleh puteranya Maharaja Lelah (1750- 1780), setelah Maharaja Bungsu mangkat pada tahun 1780, ia digantikan oleh puteranya yang bernama Maharaja Sinda II (1780- 1810). Pada masa Maharaja Sinda II ini terjadi peperangan antara kerajaan pelalawan dengan Siak Sri Indrapura (1797 dan 1798). Setelah mangkat, Maharaja Sinda II di ganti oleh puteranya Maharaja Lelah II (1810 – 1811).  Pada masa beliau, terjadi lagi peperangan dengan kerajaan Siak yang berakhir dengan kekalahan pelalawan. Setelah kalah, Maharaja Lelah II mengungsi ke segati (langgam). Di bawah kendali kerajaan Siak, dilantiklah Said Abdurahmman sebagai Sultan pelalawan, dengan gelar Assyaid Abdurahman Fakhruddin (1811- 1822). 

Sultan Abdurahmman mengirim utusan ke tambak segati untuk mengundang Maharaja Lelah II ke pelalawan.  Maharaja Lelah II kemudian diangkat menjadi orang besar dengan gelar Datuk Engku Raja Lelah Putera. 
Sejak itu kerajaan pelalawan diperintah oleh raja- raja keturunan Said Abdurahman, saudara kandung Syarif Ali, Sultan Siak. Sampai Kepada raja pelalawan terakhir, raja- raja itu adalah:
 
- Syarif Abdurrahman [1798 - 1822 M]
 - Syarif hasyim [1822 -1828 M].
 - Syarif  Ismail  ( 1828 – 1844 M)
 - Syarif hamid [1844 – 1866 M].
 - Syarif Ja’afar  [1866 – 1872 M] 
 - Syarif Abubakar  [1872 – 1892 M]
 - Tengku  Sontol Said Ali [1886 – 1892 M] 
 - Syarif Hasyim II [1892 – 1930 M]
 - Tengku Said Osman [1892 – 1930 M]
 - Syarif Harun/Tengku Said Harun [1941 – 1946 M].

Demikian materi kita hari ini, untuk tugas ananda yaitu: melanjutkan ringkasan mengenai kerajaan dan kelompok masyarakat diRiau pada buku catatan BMR yang nantinya akan bapak periksa apabila kita sudah mulai belajar tatap muka. Berarti jumlah keseluruhan kerajaan dan kelompok masyarakat di Riau ada 20 kerajaan (10 kerajaan pada materi minggu lalu, dan 10 kerajaan materi saat ini). Untuk minggu depan bapak akan ambil nilai ulangan harian 1, silahkan ananda baca dan pelajari materi yang sudah bapak ajarkan, dimulai dari materi perkenalan sampai materi hari ini.

Sebelum kita tutup, silahkan ananda saksikan video berikut ini, berupa syair ikan terubuk;


Cukup sekian perjumpaan kita hari ini, sampai jumpa minggu depan. Silahkan ananda berdo'a menurut agama masing-masing. Jaga kesehatan, semangat terus dalam belajar dan jangan lupa beribadah.
Wassalam

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Pertemuan 3"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel